
Jakarta – Fenomena paus yang terdampar di pantai kembali menjadi perhatian publik setelah seekor paus sepanjang sekitar 12 meter ditemukan di kawasan Sungsang, Banyuasin, Sumatera Selatan, pada 29 Juni 2026. Mamalia laut tersebut sempat terbawa arus hingga memasuki area permukiman dan menabrak tiang rumah warga sebelum akhirnya mati saat air laut surut.
Diduga, paus memasuki kawasan tersebut ketika air laut sedang pasang. Namun setelah permukaan air turun, tubuhnya tidak lagi mampu kembali ke perairan yang lebih dalam sehingga akhirnya terdampar.
Kasus Paus Terdampar Bukan Fenomena Baru
Peristiwa serupa beberapa kali terjadi di Indonesia sepanjang 2026. Selain di Banyuasin, paus juga dilaporkan terdampar di Bali dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Di wilayah Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, puluhan paus pilot juga pernah terdampar. Dari total 55 ekor yang ditemukan, sebanyak 34 berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke laut, sedangkan 21 lainnya tidak dapat bertahan hidup.
Sementara itu, di Pantai Cilacap, Jawa Tengah, dua ekor hiu paus ditemukan terdampar pada Mei 2026. Kawasan tersebut memang beberapa kali menjadi lokasi terdamparnya satwa laut berukuran besar.
Gangguan Organ Navigasi
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza, menjelaskan bahwa penyebab pasti keterdamparan paus hanya dapat dipastikan melalui proses nekropsi atau pemeriksaan bangkai hewan, mirip autopsi pada manusia.
Berdasarkan sejumlah hasil nekropsi yang dilakukan Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional bersama Fakultas Biologi UGM, ditemukan adanya kerusakan pada organ ekolokasi paus. Organ ini sangat penting karena digunakan untuk bernavigasi sekaligus mencari mangsa melalui pantulan gelombang suara.
Kerusakan tersebut diduga dipicu oleh berbagai faktor, seperti tingginya polusi suara bawah laut dari lalu lintas kapal, aktivitas survei seismik, penggunaan sonar dalam eksplorasi minyak dan gas, maupun getaran akibat gempa bumi. Selain itu, infeksi parasit dan pencemaran lingkungan berupa sampah plastik, jaring nelayan, hingga serpihan kapal juga dapat memperburuk kondisi tersebut.
Kondisi Dasar Laut Turut Berpengaruh
Akbar menambahkan bahwa karakter dasar perairan juga memengaruhi kemampuan navigasi paus. Wilayah dengan substrat lumpur dan pasir menghasilkan pantulan gelombang suara yang lebih lemah dibandingkan kawasan berkarang atau berbatu.
Jika organ ekolokasi telah mengalami gangguan, paus akan kesulitan membedakan perairan dangkal dan dalam. Akibatnya, hewan tersebut berisiko masuk ke wilayah pantai hingga akhirnya terdampar.
Pada spesies yang hidup berkelompok, kondisi ini bisa menjadi lebih fatal. Ketika pemimpin kawanan kehilangan arah, anggota kelompok lain cenderung mengikuti sehingga menyebabkan keterdamparan massal.
Keracunan Jadi Dugaan pada Hiu Paus
Berbeda dengan paus, kasus hiu paus yang terdampar di Pantai Banjarsari, Cilacap, diduga berkaitan dengan keracunan akut atau intoksikasi.
Menurut Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia, drh Dwi Suprapti, dugaan tersebut masih diteliti melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel organ dan isi saluran pencernaan. Analisis dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pencemaran kimia, logam berat, maupun faktor lain yang memengaruhi kondisi satwa tersebut.
Beberapa kemungkinan penyebab keracunan meliputi makanan yang telah terkontaminasi, kualitas air yang menurun, hingga keberadaan sampah plastik yang ikut tertelan. Dalam pemeriksaan juga ditemukan gumpalan plastik di dalam saluran pencernaan hiu paus.
Dampak Pencemaran Laut
Peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Nuning Vita Hidayati, menjelaskan bahwa pencemaran perairan dapat mengganggu kondisi fisiologis, sistem kekebalan tubuh, serta kemampuan navigasi satwa laut berukuran besar.
Paparan logam berat maupun polutan lainnya dapat memicu stres lingkungan dan disorientasi sehingga meningkatkan kemungkinan hiu paus maupun mamalia laut lain terdampar. Karena itu, kualitas perairan di jalur migrasi satwa laut dinilai perlu terus dipantau.
Fenomena Serupa Terjadi di Luar Negeri
Kasus mamalia laut terdampar juga terjadi di pantai California, Amerika Serikat. Sejumlah paus bungkuk dilaporkan mati akibat keracunan asam domoat, yakni biotoksin alami yang diproduksi oleh alga tertentu dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan laut.
Paparan racun tersebut diketahui dapat menyebabkan gangguan saraf, kejang, hingga kematian pada mamalia laut. Selain keracunan biotoksin, para peneliti menyebut keterdamparan paus di pantai barat Amerika juga dipengaruhi faktor lain seperti tabrakan dengan kapal, kekurangan nutrisi, serta gangguan lingkungan laut.
Para ahli menilai setiap kasus keterdamparan satwa laut memiliki penyebab yang berbeda. Karena itu, pemeriksaan ilmiah melalui nekropsi dan analisis lingkungan menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab pasti sekaligus mendukung upaya konservasi mamalia laut di masa mendatang.