
Jakarta – Rasa lapar biasanya muncul ketika tubuh membutuhkan tambahan energi. Namun, bagaimana jika perut kembali terasa lapar padahal baru saja menyelesaikan makan? Kondisi ini ternyata bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Bukan hanya soal jumlah makanan yang disantap, rasa lapar juga berkaitan dengan komposisi makanan, kecepatan makan, kondisi emosional, kualitas tidur, hingga pengaruh obat tertentu.
Tubuh memiliki sistem yang cukup kompleks untuk mengatur rasa lapar dan kenyang. Hormon ghrelin, misalnya, berperan memberikan sinyal lapar kepada otak. Sementara hormon leptin membantu memberi tahu otak ketika tubuh sudah mendapatkan energi yang cukup.
Jika sistem tersebut terganggu atau makanan yang dikonsumsi tidak cukup mengenyangkan, rasa lapar dapat muncul kembali dalam waktu singkat.
Dilansir dari Seasonhealth, berikut beberapa alasan seseorang masih merasa lapar meski baru selesai makan.
1. Menu Makan Kurang Mengenyangkan
Komposisi makanan sangat menentukan berapa lama rasa kenyang dapat bertahan. Makanan yang rendah protein, serat, dan lemak sehat cenderung lebih cepat dicerna sehingga rasa lapar dapat kembali lebih cepat.
Sebaliknya, makanan yang mengandung protein dan serat dalam jumlah cukup dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Sayuran, biji-bijian utuh, produk susu, daging tanpa lemak, alpukat, serta sumber lemak sehat lainnya bisa menjadi pilihan.
Komposisi makanan yang seimbang juga membantu menjaga kadar gula darah agar tidak mengalami perubahan secara drastis yang kemudian dapat memicu keinginan untuk makan kembali.
2. Terbiasa Makan Terburu-buru
Kecepatan saat menghabiskan makanan ternyata juga berpengaruh terhadap rasa kenyang.
Tubuh membutuhkan waktu untuk mengirimkan sinyal dari lambung ke otak bahwa makanan sudah cukup. Jika makanan dihabiskan dalam waktu sangat singkat, sinyal tersebut mungkin belum diterima secara optimal.
Akibatnya, seseorang bisa merasa belum kenyang meskipun sebenarnya sudah mengonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup. Makan secara perlahan dapat membantu tubuh mengenali rasa kenyang dengan lebih baik.
3. Sinyal Kenyang Tidak Bekerja Optimal
Leptin merupakan hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak dan berperan dalam mengatur rasa kenyang. Hormon ini mengirimkan sinyal kepada otak bahwa tubuh sudah mendapatkan energi yang cukup.
Namun, pada kondisi resistensi leptin, otak tidak merespons sinyal tersebut sebagaimana mestinya. Akibatnya, rasa lapar dapat tetap muncul meskipun seseorang sudah makan dalam jumlah cukup.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kelebihan berat badan, peradangan, kurang aktivitas fisik, gangguan tidur, dan faktor genetik.
4. Sedang Mengalami Stres
Rasa lapar yang muncul setelah makan tidak selalu disebabkan oleh kebutuhan energi. Kondisi psikologis seperti stres juga dapat meningkatkan keinginan untuk makan.
Saat mengalami stres, tubuh dapat meningkatkan produksi kortisol. Hormon tersebut dapat memengaruhi nafsu makan dan membuat seseorang lebih tertarik pada makanan yang tinggi gula atau lemak.
Stres juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Inilah yang membuat sebagian orang cenderung mencari makanan sebagai pelampiasan ketika sedang menghadapi tekanan emosional.
5. Ada Pengaruh dari Obat yang Dikonsumsi
Peningkatan nafsu makan secara tiba-tiba juga bisa berkaitan dengan obat-obatan tertentu.
Beberapa jenis obat, termasuk steroid dan obat antidepresan tertentu, dapat memengaruhi mekanisme pengaturan nafsu makan. Pada sebagian orang, efek tersebut dapat membuat rasa lapar menjadi lebih sering muncul.
Jika perubahan nafsu makan terjadi setelah mulai mengonsumsi obat tertentu, jangan langsung menghentikan penggunaannya sendiri. Sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter untuk mengetahui kemungkinan efek samping dan langkah yang tepat.
6. Kurang Tidur atau Kualitas Tidur Buruk
Kebiasaan tidur yang tidak cukup juga dapat membuat seseorang lebih mudah lapar sepanjang hari.
Kurang tidur dapat memengaruhi hormon ghrelin dan leptin. Ghrelin berkaitan dengan munculnya rasa lapar, sedangkan leptin membantu memberikan sinyal kenyang. Ketika pola tidur terganggu, keseimbangan kedua hormon tersebut dapat ikut berubah.
Kurang tidur juga dikaitkan dengan perubahan respons insulin dan peningkatan risiko gangguan metabolisme.
Mengacu pada anjuran Kementerian Kesehatan, orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7-8 jam tidur setiap malam.
Jangan Abaikan Rasa Lapar yang Terus Berulang
Sesekali merasa lapar tidak lama setelah makan belum tentu menunjukkan adanya masalah. Bisa saja penyebabnya adalah porsi makan yang terlalu sedikit atau makanan yang kurang mengandung protein dan serat.
Namun, jika rasa lapar berlebihan terjadi terus-menerus atau disertai perubahan berat badan maupun keluhan lain, ada baiknya memperhatikan pola makan, tidur, tingkat stres, dan obat yang sedang dikonsumsi. Bila keluhan menetap, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebabnya.