
Jakarta – Bulan Juli 2026 akan menjadi momen menarik bagi para pecinta astronomi. Sepanjang bulan ini, berbagai fenomena langit diperkirakan menghiasi cakrawala malam, mulai dari konjungsi antaraplanet, fase Bulan Purnama Buck Moon, hingga puncak hujan meteor tahunan.
Mengacu pada kalender astronomi yang dirilis In The Sky, sebagian besar fenomena tersebut dapat diamati tanpa menggunakan teleskop, selama cuaca cerah dan lokasi pengamatan minim polusi cahaya.
Buck Moon Muncul pada Akhir Juli
Salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan adalah Buck Moon, yaitu fase bulan purnama yang terjadi pada 29 Juli 2026.
Menurut data In The Sky, puncak fase purnama berlangsung pada pukul 14.35 UTC, atau sekitar 21.35 WIB, 22.35 WITA, dan 23.35 WIT.
Buck Moon merupakan nama tradisional untuk bulan purnama yang muncul pada Juli. Sebutan tersebut berasal dari masyarakat adat Amerika Utara karena bertepatan dengan periode tanduk rusa jantan mulai tumbuh kembali. Fenomena ini dapat dinikmati sepanjang malam hanya dengan mata telanjang.
Dua Hujan Meteor Capai Puncak
Menjelang pergantian bulan, langit malam akan dihiasi dua hujan meteor tahunan, yakni Southern Delta Aquariid dan Alpha Capricornid.
Keduanya diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada 30 Juli 2026.
Southern Delta Aquariid dikenal mampu menghasilkan puluhan meteor setiap jam ketika langit benar-benar gelap. Sementara Alpha Capricornid memang memiliki jumlah meteor lebih sedikit, tetapi sering menghadirkan meteor sangat terang atau fireball yang mudah terlihat.
Waktu terbaik untuk menyaksikan kedua fenomena tersebut adalah setelah tengah malam hingga menjelang matahari terbit dari lokasi yang jauh dari cahaya kota.
Fenomena Astronomi Lain Selama Juli 2026
Selain Buck Moon dan hujan meteor, sejumlah peristiwa langit lain juga akan berlangsung sepanjang Juli, di antaranya:
- 1 Juli – Merkurius berada di titik aphelion atau posisi terjauh dari Matahari.
- 3 Juli – Mars mengalami konjungsi sekaligus melintas sangat dekat dengan Uranus.
- 6 Juli – Bumi mencapai aphelion, yaitu titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunan.
- 7 Juli – Bulan berkonjungsi dengan Saturnus bersamaan dengan fase Kuartal Terakhir.
- 10 Juli – Bulan melintas di dekat gugus bintang Pleiades (M45).
- 11 Juli – Konjungsi Bulan dan Mars.
- 14 Juli – Fase Bulan Baru (New Moon).
- 17 Juli – Bulan sabit tampak berdekatan dengan Venus pada langit senja.
- 21 Juli – Fase Perbani Awal (First Quarter Moon).
- 26 Juli – Saturnus mulai memasuki fase gerak semu mundur (retrograde).
- 29 Juli – Jupiter berada dalam posisi konjungsi dengan Matahari sehingga sulit diamati dari Bumi.
Tips Menikmati Fenomena Langit
Sebagian besar fenomena astronomi sepanjang Juli bisa diamati tanpa alat optik. Agar hasil pengamatan lebih maksimal, pilihlah lokasi yang memiliki cakrawala terbuka, jauh dari polusi cahaya, serta pastikan kondisi cuaca sedang cerah.
Penggunaan aplikasi peta langit di ponsel juga dapat membantu menemukan posisi planet, bulan, maupun gugus bintang sehingga fenomena yang muncul lebih mudah dikenali.