Negara-negara kepulauan di seluruh dunia menghadapi ancaman serius dari kenaikan air laut yang dipicu oleh perubahan iklim. Fenomena ini tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem, tetapi juga kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Untuk menjawab tantangan ini, beberapa negara mulai mengembangkan solusi inovatif: kota terapung.
Kota terapung menawarkan alternatif tempat tinggal yang fleksibel dan berkelanjutan di tengah meningkatnya permukaan air laut. Dibandingkan pembangunan darat yang memerlukan biaya besar dan waktu lama, kota terapung bisa dengan cepat diadaptasi dan dipindahkan sesuai kebutuhan. Selain itu, konsep ini juga membantu mengurangi tekanan terhadap lahan darat yang semakin menipis.
Belanda, negara dengan sejarah panjang menghadapi tantangan banjir, telah meluncurkan berbagai proyek kota terapung seperti “Floating City” yang mengintegrasikan hunian, fasilitas umum, dan ruang hijau di atas platform terapung. Teknologi ini menunjukkan bagaimana inovasi dapat membantu negara maju mengatasi kenaikan permukaan air.
Maladewa, negara kepulauan kecil di Samudra Hindia, mulai membangun pulau-pulau terapung yang berfungsi sebagai hotel, restoran, dan fasilitas wisata. Upaya ini tidak hanya melindungi wilayah dari kenaikan air laut tetapi juga mendukung industri pariwisata yang menjadi sumber utama pendapatan negara.